Bab Shalat Istikharah 

Bab Shalat Istikharah 

Bab Shalat Istikharah

Bab Shalat Istikharah 
Bab Shalat Istikharah

Arti Shalat istikharah

Shalat Istikharah ialah shalat yang dilakukan ketika seseorang mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan dianatara berbagai alternatif yang tersedia. Sementara dari berbagai alternatifyang tersedia dari pertimbangan rasional dan data yang dipergunakan mengambil keputusan sama-sama memiliki kedudukan yang kuat, apdahal tidak mungkin menetapkan satu pilihan kecuali harus menolak yang lain.

Penyusun merumuskan bahwa Shalat Istikharah dilakukan untuk mengambil ketegasan mengenai sesuatu yang penting. Shalat demikian dilakukan di luar shalat wajib dengan membaca do’a tertentu. selesai membaca do’a lalu orang yang bersangkutan menyebut apa yang sedang menjadi kepentingannya.
Para ulama tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai ketentuan waktu diluar shalat wajib tersebut demikian pula mengenai rincian pelaksanaannya.

Landasan

Landasan rumusan demikian itu ialah hadits Jabir bin Abdullah berikut ini;
عَلَيْهِ وَالسَلَّمَ صَلَّىاللَّهُ اللَّهِ رَسُوْلُ كاَنَ : قَالَ ض ر عَبْدِاللَّهِ بْنِ جَابِرِ لِحَدِيْثِ
أَحَدُكُمْ إِذَاهَمَّ :يَقُوْلُ الْقُرْأَنِ مِنَ يُعَلِّمُنَاسُوْرَةَ فِىالاُمُرِكَمَا يُعَلِّمُنَاالاِسْتِخَارَةِ
رِوَايَةِ مِنْ . اَلْحَدِيْثِ) –لْيَقُلْ ثُمَّ الْفَرِيْضَةِ غَيْرِ مِنْ رَكْعَتَيْنِ فَلْيَرْكَعبِأَمْرٍ
(الْبُخَارِىِّ

Artinya: “Beralasan hadits bin Abdullah yang mengatakan: “Rasulullah saw. kepada kami beristikharah dalam segala hal sebagaimana ia mengajarkan kepada kami surat dari al-Qur’an itu. Ia mengatakan: “Apabila ada kepentingan bagimu untuk melakukan sesuatu hendaklah kerjakan shalat dsua raka’at diluar shalat fardhu, kemudian membaca (do’a) . . . (Lihat bacaan

do’a shalat Istikharah

Adapun bacaan do’a itu ialah sebagaimana nukilan di bawah ini;
الْعَظِيْمِ فَضْلِِكَ مِنْ وَأَشْأَلُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِعِلْمِكَ أَسْتَخِيْرُكَ اِنِّى اَللَّهُمَّ
تَعْلَمُ كُنْتَ إِنْ اَللَّهُمَّ . الْغُيُوْبِ عَلاَّمُ وَأَنْتَ وَلاَأَعْلَمُ وَلاَأَقْدِرُوَتَعْلَمُ تَقْدِرُ فَإِنَّكَ
أَوْعَاجِلِ) أَمْرِى وَعَاقِبَةِ وَمَعَاشِى وَدُنيَاىَ فِىدِيْنِى هَذَاالاَمْرَخَيْرٌلِى أَنَّ
هَذَالاَمْرَ اَنَّ تَعْلَمُ كُنْتَ وَاِنْ ، فِيْهِ لِى بَارِكْ ثُمَّ لِى فَاقْدُرْهُ (أَمْرِىوَاَجِلِهِ
فَاصْرِفْهُ (وَاَجِلِهِ أَمْرِى اَوْعَاجِلِ) أَمْرِى وَعَاقِبَةِ وَمَعَاشِى دُنْيَاىَ فِي شَرُّلِى
بِهِ رَضِّنِى ثُمَّ كاَنَ الْخَيْرَحَيْثُ وَاقْدُرْلِىَ عَنْهُ وَاصْرِفْنِى عَنِّى

“Allahumma inni astahiruka biilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadlikal ‘adhim, fainnaka taqdiru wa la aqdiru wa ta’lamu wa la a’lamu wa anta a’almul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna ha dzal amra khairun li fi dini wa dunya ya wa ma’asyi wa aqibati amri ()”

Artinya

“Ya Allah, arahkanlah diriku kepada yang baik dengan ilmu-Mu, dan berikanlah aku kemampuan dengan kekuasaan-Mu yang melimpah, sesungguhnya Engkau Yang Maha Kuasa, dan aku tidak kuasa sedikitpun. Dan Engkaulah yang Maha Mengetahui, dan aku tidak tahu sedikitpun. Dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang Ghaib. Ya Allah jika hal ini baik bagiku, bagi agama, dunia, penghidupan dan kesudahan urusanku, maka mohon Engkau tetapkan kebaikan dan kemudahan bagiku, kemudian limpahkanlah berkah bagiku. Jika hal ini jelek bagiku, bagi agama, dunia, penghidupan dan kesudahan urusanku, mohon Engkau jauhkan ia dari padaku dan jauhkan aku dari padanya dan limpahkanlah kepadaku keutamaan juga adanya, kemudian jadikanlah aku orang yang rela dengan pemberian itu”.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/