Beberapa Jenis Motivasi

Beberapa Jenis Motivasi

Beberapa Jenis Motivasi

Beberapa Jenis Motivasi
Beberapa Jenis Motivasi

Motivasi Intrinsik atau Motivasi Internal

Motivasi intrinsic/Internal merupakan bentuk perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang dipicu  karena adanya proses berpikir logis dengan memperhatikan hal-hal yang terjadi dalam dirinya. Salah satu di antaranya kebiasaan yang tidak wajar, keinginan yang tertunda, perasaan bersalah, kebiasaan buruk dan lain-lain.

Menurut Winardi motivasi intrinsic/internal dipengaruhi oleh tiga hal dasar yaitu : kebutuhan, aspirasi dan keinginan. Motivasi terjadi dengan tidak sendirinya, perlu adanya kesadaran penuh untuk hal itu. Untuk terjadinya perubahan butuh waktu yang belum tentu relative cepat. Adanya motivasi berkelanjutan, memerlukan jangka waktu yang relative lama.

 

Motivasi Ekstrinsik/Eksternal

Teks Editorial – Untuk motivasi ekstrinsik terjadi akibat dipicu oleh lingkungan, orang atau materi. Situasi melahirkan perubahan yang mendasar melalui proses perenungan atau melihat kenyataan di sekeliling kita. Motivasi ini bisa terjadi secara cepat bisa juga berlahan-lahan. Jika diamati, motivasi ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh proses berpikir. Lingkungan, materi dan seseorang tidak akan bermakna apa-apa jika tidak dibantu oleh kerja otak atau intuitif. Perubahan yang diharapkan terjadi cukup besar pada diri seseorang, sehingga membuat satu hal yang dianggap luar biasa sebagai hasil kerja motivasi diri untuk berprestasi atau berkarya lebih baik dari biasanya.

 

Motivasi dari berbagai Perspektif

Perspektif Behavioral

Menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat.

 

Perspektif Humanistis

Menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka dan peka terhadap orang lain. Berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hierarki Maslow diberi perhatian khusus yaitu aktualisasi diri.

 

Perspektif Kognitif

Pemikiran murid akan memandu motivasi mereka, juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Jadi perspektif behavioris memandang motivasi murid sebagai konsekuensi dari insentif eksternal, sedangkan perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Perspektif kognitif mengusulkan konsep menurut White (1959) tentang motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.

 

Perspektif Sosial

Kebutuhan afiliasi adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru. Murid sekolah yang punya hubungan penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sifat akademik yang positif dan lebih senang bersekolah.