Ciri-ciri dan Syarat-syarat Berfilsafat

Ciri-ciri dan Syarat-syarat Berfilsafat

Ciri-ciri dan Syarat-syarat Berfilsafat

Ciri-ciri dan Syarat-syarat Berfilsafat
Ciri-ciri dan Syarat-syarat Berfilsafat

Fikiran kefilsafatan atau berfilsafat

ialah perjuangan insan untuk menyusun suatu skema konsepsional (rencana kerja), konsep ini ialah hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman wacana hal-hal serta proses-proses dalam korelasi yang umum. Filsafat intinya ialah ‘Pemikiran’ wacana hal-hal atau proses menyerupai diatas.

Kaprikornus filsat

itu ialah hasil menjadi serta sadarnya insan terkena dirinya sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkan. melaluiataubersamaini demikian ciri-ciri kefilsafat sanggup dibatasi sebagai diberikut :
Adanya korelasi antara jawabanan-jawabanan yang difilsafati, maksudnya dari sekian banyak pertanyaan yang didiberikan atau yang diperoleh dari banyak sekali problem yang dihadapi membutuhkan jawabanan-jawabanan yang mempunyai korelasi timbal balik. misalnnya : apa yang diamakan kebenaran ? maka seorang filosof harus menemukan apa yang dikatakan kenyataan. Maksudnya kalau pertanyaan wacana kebenaran, hendak dijawaban. Maka filosof berusaha untuk menjawaban terhadap pertanyaan yang menyangkut dengan pertanyaan yang lain, menyerupai wacana “kenyataan”.
Adanya anutan yang koheren, maksudnya perenungan filsafat berusaha untuk menyusun skema yang koheren atau runtut (konsisten), yaitu suatu perenungan filsafat dilarang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang berperihalan. misal : kalau hujan turun, maka mustahil jawabanannya tidak benar bahwa hujan turun.
Berfikir rasional, maksudnya bahwa perenungan filsafat harus berdasar pada konsepsional yaitu bagan-bagan yang bersifat logis yang mempunyai korelasi satu dengan yang lain. Menyelesaikan persoalan-persoalan dengan yang berdasar pada premis-premis logis.

Berfikir komprehensif

maksudnya ialah seorang filosof berusaha mempersembahkan klarifikasi wacana dunia seluruhnya termasuk dunia dirinya sendiri. Filsafat dalam bentuk ini ialah mencari kebenaran dalam bentuk yang paling umum.
Memahami pandangan dunia luas dengan analisa, perenungan filsafat disini berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu pandangan dunia yang mempersembahkan yang mempersembahkan keterangan dunia tiruana dan tiruana hal yang ada di dalamnya.
melaluiataubersamaini demikian, kenyataan menunjukkan bahwa spesialuntuk orang-orang tertentu yang sanggup mengemukakan pendapat secara filosofi, lantaran filsafat itu sendiri ialah hasil renungan insan terdalam. Perenungan insan yang mendalam wacana sesuatu problem tentu memakai metode berfikir. melaluiataubersamaini demikian ciri khas dari pada berfikir yang filosofis ialah :
Radikal, berasal dari kata “Radix” berarti akar, berfikir radikal berfikir hingga konsekwensinya yang terakhir.
Sistematis, yaitu berfikiran logis bergerak selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang paling berafiliasi antara satu dengan yang lain secara teratur. Atau dengan kata lain sistimatis sanggup dijelaskan sebagai diberikut : “Seorang pelajar filsafat dalam menghadapi filsafat mesti bermula dari perjalanan menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat, setelah itu ia mempelajari teori hakekat yang meruakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filsafat nilai.

Universal, yaitu berfikir secara umum dan tidak secara tetrtentu (khusus) atau tidak terbatas pada bab tertentu kebenarannya. Maksudnya kebenaran yang diperoleh ilmu pengetahuan lewat penyelidikan contohnya bukan bersifat universal, akan tetapi keuniversalan filsafat ialah kebenaran bersifat umum yang memenuhi metode filsafat.
Logis, artinya segala kebenaran yang diperoleh dari perenungan yang mendalam mesti masuk akal, atau kebenaran yang bersifat masuk akal, atau fikiran yang ditetapkan dengan bahasa.

Baca Juga: