dits Jual Beli

إِنَّمَا الْبَيْعَ عَنْ تَرَاضٍ. (رواه إبن حبّان)

            Artinya:“Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika saling suka”. (H.R Ibnu Hibban)

            Hadits ini menjelaskan apabila kita melakukan jual beli haruslah di dasarkan dengan rasa suka sama suka agar sipenjual maupun si pembeli merasa puas dan ikhlas tanpa ada suatu pihakpun yang merasa di rugikan.

أن النبى صلى الله عليه وسلم سئل أى الكسب أطيب قال عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW, pernah ditanya tentang usaha apa yang paling baik; nabi berkata: “Usaha seseorang dengan tangannya dan jual beli yang mabrur”. (H.R al-Bazzar dinyatakan sahih oleh al-Hakim al-Naysaburi).

            Hadits ini menjelaskan bahwasannya usaha atau pekerjaan yang baik itu ialah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan jual beli yang mabrur atau baik, oleh sebab itu hendaklah kita dalam berwirausaha oleh jerih payah kita sendiri. Agar nanti kita bisa menikmati hasil dari keringat kita sendiri yang terasa begitu nikmat dibandingkan hasil usaha dari orang lain. Dan usaha yang paling baik itu ialah jual beli sebagaimana yang telah di contohkan oleh Nabi muhammad SAW, jual beli Nabi di kenal karena ia merupakan penjual yang paling jujur sehingga siapapun yang belanja padanya akan merasa puas, oleh seba itulah Nabi pantas diberi gelar Ruhul amin yang artinya dapat dipercaya.

          .

  1. Rukun Jual Beli

Menurut Jumhur Fuqoha’ ada empat rukun dalam jual-beli : pihak Penjual, pihak pembeli, sighat, dan obyek jual-beli. Dalam hal ini pihak penjual dan pembeli termasuk dalam pihak yang berakad (‘aqid), sedangkan sighat merupakan unsur dari akad.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

  1. Akad (‘aqd) dalam jual-beli yaitu ikatan kata antara penjual dan pembeli. Yang terdiri dari ijab dan qabul (sighat akad). Sedangkan pengertian ijab ialah pernyataan pihak pertama mengenai isi perkataan yang diinginkan dan qabul adalah pernyataan pihak kedua untuk menerima. Namun apabila terkecuali jual-beli barang-barang remeh, tidak perlu adanya ijab dan qabul, cukup dengan saling memberi sesuai dengan adat yang berlaku.
  1. Akid (‘aqid), yaitu orang-orang yang berakad yang terdiri dari pihak penjual pihak pembeli.
  1. Objek akad (ma’kud alaih), yaitu sesuatu hal atau barang yang disebut dalam akad.

sumber :

https://superhackemail.com/tahu-bulat-apk/