Doktrin-doktrin Murji’ah

Doktrin-doktrin Murji’ah

 

Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasana atau doktrin irja atau arja’a yang diaplikasiakan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Di bidang politik, doktrin irja diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murji’ah dikenal pula sebagai the queietist (kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi begitu jauh sehingga membuat Murji’ah selalu diam dalam persoalan politik.

Adapun di bidang teologi, doktrin irja dikembangkan Murji’ah ketika menanggapi persoalan-persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada perkembangan berikutnya, persoalan-persoalan yang ditanggapinya menjadi semakin kompleks  sehngga mencakup iman, kufur, dosa besar dan ringan (mortal and venial sains), tauhis tafsir Al-Qur’an, eskatologi, pengampunan atas dosa besar, kemaksuman nabi, hukuman atas dosa, ada yang kafir di kalangan ,generasi awal Islam, tobat, hakikat Al-Qur’an, nama dan sifat Allah, serta ketentuan Tuhan.

Berkaitan dengan dokrin ketentuan Murji’ah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut:

  1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyyah hingga Allah memutuskannya di akhirat kelak.
  2. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat khulafaur rasyidin
  3. Pemberian harapan terhadap orang Muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah Swt.
  4. Doktrin-doktrin Murji’ah meyerupai pengajaran (madzhab) para skeptis dan empiris dari kalangan helenis.

Masih berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah, Harun Nasution menyebutkan empat ajaran pokoknya, yaitu:

  1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa al-Asy’ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat kelak.
  2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang Muslim tang berdosa besar.
  3. Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal.
  4. Memberikan pengharapan kepada Muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

Sementara itu, Abu A’la al-Maududi menyebutkan dua doktrin ajaran pokok Murji’ah, yaitu:

  1. Iman adalah percaya kepada Allah dan RasulNya saja. Adapun amal dan perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Bedasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardhukan dan melakukan dosa besar.
  2. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.Doktrin-doktrin Murji’ah

sumber