Imam Nawawiy

 Imam Nawawiy

هوما اتصل سنده بالعدول الضابطون من غير شذوذ ولا علة

“Adalah Hadîts yang sanadnya bersambung melalui periwayatan orang yang adil lagi dhabit dari orang yang adil lagi dhabit tanpa adanya sadz dan  ilat”[[39]]

3)      ‘Ajjâj al-Khâtib:

هوما اتصل سنده برواية الثقة من الثقة من اوله الى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

“Adalah hadîts yang sanadnya bersambung melalui periwayatan orang yang tsiqah dari orang tsiqah tanpa adanya sadz dan  ilat”

Dari defenisi-defenisi yang disampaikan oleh para ulama di atas setidaknya dapat disimpulkan syarat-syarat hadîts Shahîh, sebagai berikut:

Ø  Ittishal al-sanad (Bersambung sanadnya), maksudnya antara satu perawi dengan perawi sesudah dan sebelumnya dimungkinkan untuk bertemu. Sehingga dengan syarat ini dikecualikan hadîts munqati’, mu’dhal, mu’allaq, dan mudallas.[[40]]

Ø  Diriwayatkan oleh perawi yang ‘âdil

Adapun yang dimaksud dengan perawi ‘âdil adalah perawi yang memiliki integritas agama, akhlak yang baik serta terhindar dari perbuatan fasik dan hal-hal yang menjatuhkan muru’ah-nya. Sebagai mana yang ditulis oleh ‘Ajjâj al-Khâtib sebagai berikut:

عدل:  هو من استقام دينه, وحسن خلقه, وسلم من الفسق وخوارم المروءة

Ø  Diriwayatkan oleh perawi yang dhâbit

Adapun dhâbit sebagaimana yang ditulis oleh ‘Ajjâj al-Khâtib adalah:

ضابط: هو تيقظ الراوي حين تحمله وفهمه لما سمعه, وحفظه لذالك من وقت التحمل الى وقت الأداء

Maksudnya seorang perawi menyadari hadits tersebut ketika mendengarnya, memahami maknanya ketika menyampaikan, dan menghafal/memahami hadîts mulai dari waktu menerima hingga menyampaikannya

Ø  Tidak terdapat Syuzûz

Tidak terdapat syuzûz maksudnya adalah bahwa riwayat tersebut tidak bertentangan dengan periwayatan yang lebih tsiqah darinya. Ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh ‘Ajjâj al-Khâtib:

الشذوذ: مخالفة الثقة من هو ارجح من

Ø  Tidak terdapat ‘ilat

‘ilat yaitu sifat tersembunyi yang mencemari keshahihan hadîts, baik yang terdapat pada sanad maupun pada matan, Seperti: me-mursal-kan yang maushûl, me-muttashil-kan yang munqati’ atau me-marfu’-kan yang mauquf, dan bentuk bentuk sejenis lainnya.

Hadîts Shahîh dapat dibagi menjadi dua macam yaitu Hadîts Shahîh li dzâtihi dan Hadîts Shahîh li ghairihi.

1)      Hadîts Shahîh li dzâtihi yaitu Hadîts Shahîh yang sesuai dengan kriteria Hadîts Shahîh sebagaimana yang disebutkan di dalam defenisi di atas.

2)      Hadîts Shahîh li ghairihi yaitu: hadits yang ke-shahîh-annya dikarenakan faktor lain. Seperti Hadîts Hasan yang menjadi Shahîh dikarenakan oleh adanya jalur-jalur lain yang menguatkan.

baca jgua :