Imbauan Nadiem di Pidato, Ahli Katakan Itu Sesuai Tuntutan Zaman

Imbauan Nadiem di Pidato, Ahli Katakan Itu Sesuai Tuntutan Zaman

Imbauan Nadiem di Pidato, Ahli Katakan Itu Sesuai Tuntutan Zaman

Imbauan Nadiem di Pidato, Ahli Katakan Itu Sesuai Tuntutan Zaman
Imbauan Nadiem di Pidato, Ahli Katakan Itu Sesuai Tuntutan Zaman

Pidato Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional

Tahun 2019 yang tertanda tanggal 25 November 2019 lalu menjadi banyak perbincangan warganet.

Pasalnya isi pidato mantan CEO Gojek itu dinilai memberikan pencerahan. Isi Pidato Nadiem yang dibagikan oleh twitter resmi Kemendikbud itu berisikan 2 lembar kebijakan Nadiem untuk sistem pendidikan Indonesia.

Dalam pidato itu juga berisi 5 langkah awal, sebuah perubahan kecil yang diinginkan Nadiem

untuk dilakukan dan diaplikasikan oleh guru guru Indonesia sebagai garda depan memperbaiki pendidikan Indonesia.

Isi imbauan tersebut antara lain;
1. Ajaklah kelas berdiskusi, bukan mendengar
2. Berikan kesempatan murid untuk mengajar di kelas
3. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.
4. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri
5. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami bantuan.

Terkait itu Suko Widodo, Ahli Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menilai pidato

tersebut merupakan langkah yang baik meskipun saat ini konsep tersebut juga telah diterapkan oleh sistem pendidikan Indonesia.

“Ide tersebut sebetulnya telah berkembang dalam proses pendidikan di Indonesia. Dulu pada tahun 1980 ada konsep CBSA/ cara belajar siswa aktif,” ungkap Suko.

Ia menyebut problemnya berada pada rasio jumlah guru dan siswa, serta fasilitas pendidikan yang memadai. Saat ini guru 1 mengajar sekitar 38-40 siswa yang mana dinilai terlalu besar dan tidak efektif.

“Proses belajar interaktif seperti yang dikemukakan mas Nadiem bisa berlangsung jika rasio gurunya misal 1:10-15. Demikian juga beban guru dengan jam pelajaran yang besar, membuat guru tak punya waktu untuk menyiapkan materi dengan baik,” katanya.

Langkah strategis Nadiem itu, menurut Suko juga harus dibarengi dengan berubahnya sistem jam mengajar. Kelas harus memiliki rombongan belajar yang lebih kecil, jam mengajar guru juga harus dikurangi agar guru bisa menyiapkan materi dengan matang dan lebih inovatif.

“Tapi saya setuju pola komunikasi interaktif yang diidekan pak Nadiem. Hanya saja artinya ide pak Nadiem tidak mudah dilaksanakan. Tetapi itu tuntutan zaman. Bagus untuk diaplikasikan,” terangnya.

 

Baca Juga :