Islam Masa Malaya Kolonial

Kolonialisasi tanah Melayu telah menyebabkan nilai-nilai dan tatanan Islam dalam kehidupan masyarakat tradisional Melayu mengalami kemerosotan. Kebijakan kolonial portugis selama 130 tahun sejak 1511 cenderung mencegah penyebaran Islam dan perkembangan usaha dagang Muslim. Namun Portugis gagal dalam usaha ini terutama karena terus menerus mendapat perlawanan orang Melayu. Belanda yang datang setelah mengalah Portugis pada tahun 1641 agak lebih toleran kepada para penguasa Melayu. Pada tahun 1795 Belanda dapat ditaklukan oleh kekuasaan Inggris. Di bawah kolonialisasi Inggris, perkembangan ajaran agama Islam dan pengaruhnya pada kehidupan Melayu menjadi terbatas .

Ada beberapa aspek yang dapat dicatat mengenai intervensi kolonial sehingga ruang gerak, perkembangan, dan pelaksanaan Islam menjadi terbatas, antara lain mengangkut hukum Islam menjadi terbatas , antara lain menyangkut hukum Islam menjadi terbatas, antara lain menyangkut hukum Islam, paradigma politik Islam serta munculnya permasalahan terkait dengan demografi penduduk.

Pertama, berkaitan dengan perkembangan hukum Islam. Sebagaiman dijelaskan sebelumnya hukum Islam menempati posisi dasar dikesultanan-kesultanan Melayu. Namun demikian, setelah kekuasaan kolonial mulai kokoh melalui perjanjian pihak Inggris berhasil menekan para penguasa Melayu untuk menerima semua usulan Inggris dalam berbagai hal, termasuk yang berkaitan dengan hukum Islam. Pada saat yang sama , kolonial Inggris memperkenalkan dan menerapkan sistem hukum dan admistrasi hukum sipil yang berbeda dengan sistem hukum dan pengadilan Islam.

Kedua, dampak lain yang juga terkait dengan kolonialisasi Inggris adalah kemerosotan paradigma politik Islam. Menurut Azyumardi Azra: Kolonialisme yang kemudian disusul dengan penyebaran gagasan-gagasan dan konsep politik modern, seperti nasionalisme merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemerosotan paradigma politik islam di kawasan ini sebagaimana direfleksikan dalam bahasa politik yang digunakan.

Ketiga, aspek lain dari kebijakan Inggris yang relevan dengan pembahasan ini adalah masalah Demografi. Pada saat yang sama dengan pembatasan pelaksanaan hukum islam, demografi mengalami perubahan. Masyarakat menjadi lebih pluralis akibat imigrasi besar-besaran orang-orang non muslim Cina dan India yang sengaja didatangkan Inggris untuk bekerja disektor industri, pertambangan dan perkebunan.

Apa arti ini bagi perkembangan Islam dalam sebuah negara yang akan terbentuk? Pluralitas masyarakat dengan multi agama dan budayanya jelas menjadi penghambat bagi perkembangan ajaran agama Islam. Karena berbagai aspek yang terkait dengan masyarakat yang berbeda agama dan budaya perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan setiap kebijakan dan peraturan kenegaraan pada sebuah negara yang baru tebentuk. Sehingga dampaknya setiap kebijakan dan aturan bersifat netral. Karena keberpihakan pada ajaran agama, prinsip hukum dan budaya tentu akan dinilai mendeskreditkan yang lain. Dengan demikian, itulah salah satu sebab mengapa sistem pemerintahan , bentuk negara dan sistem hukum yang berlaku pada negara Malaysia tidak dapat menerapkan kembali sistem pemerintahan dan hukum yang pernah berlaku pada masa kesultanan.

Kebangkitan Islam di Malaysia.

Pengamalan islam menjadi lebih tampak jelas terutama setelah kebangkitan Islam di Malaysia yang terjadi pada tahun 1970-an. Dan mencapai puncaknya pada tahun 1980 an. Kebangkitan Islam di Malaysia terlihat jelas pada upaya muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius seperti: aktif solat berjemaah di masjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal sholeh, mengucapkan salam saat bertemu, berhati-hati saat membeli makanan agar tidak termakan pada yang haram, memakai busana muslim seperti jubah, jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban dan peci atau pakaian lainnya yang jelas jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim.

Gerakan kebangkitan islam juga terlihat dikalangan mahasiswa di kampus-kampus Malaysia. Dikalangan mahasiswa terdapat sekelompok-sekelompok pengajian yang dikenal dengan’dakwah’.Mereka secara aktif mengadakan pengajian, puasa bersama, sholat malam bersama, dan tidak jarang juga mengadakan zikir dan renungan malam bersama. Hal yang sama juga terjadi di kalangan mahasiswa yang belajar diluar negeri, baik yang belajar di inggris maupun di amerika.

Dilatar belakangi oleh pendekatan dan pandangan internasionalis FOSIS yang umum tentang islam, sementara mahasiswa asal Malaysia membutuhkan persiapan diri untuk perjuangan islam di Malaysia setelah kembali, diawal tahun 1975, dua organisasi islam yang baru yang lebih militan terbentuk dikalangan mahasiswa Malaysia di London, yaitu Suara Islam dan Islam Representation Council  (IRC). Berpegang pada ajaran-ajaran al-maududi, serta terinspirasi dari jamaah islami dari Indo-Pakistan dan Ikhwan al- muslimin dari mesir, para mahasiswa yang tergabung dalam duaorganisasi ini menjadi punya interpresentasi Islam yang radikal. Terutama Suara Islam,saat itu berobsesi untuk melaksanakan perjuaangan islam di Malaysia (revolusiislam), dengan perjuangan ideology yang akan menyoroti konflik fundamental antara cara islam dan bukan islam.

Berbeda dengan suara Islam, IRC dengan mengikuti garis Ikhwanus muslimin, berupaya mendirikan sel-sel rahasia sebagai alat terbaik untuk menyebarluaskan ajaran Islam.Strategi mereka adalah menyelinap kedalam organisasi yang ada dan berupaya memprakarsai perubahan melalui partai politik islam, IRC menekankan pendidikan, dengan menyebarluaskan alternative islam sebagai milik tunggal jalan sejati menuju cara hidup yang sempurna, melalui pembentukan dan penyebaran sel-sel rahasia kecil di kalangan mahasiswa. Dengan demikian terlihat bahwa gerakan mahasiswa luar negeri yang bergabung dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan islam nampak lebih ekstrim dan memilih nada yang radikal karena terpengaruh oleh gerakan islam yang lebih fundamental separate ikhwan al-muslimin yang berpusat di mesir, dan jamaah islam di Pakistan. Saat ini mereka kembali ke Malaysia pada paruh atau akhir tahun 1970-an panggilan bagi pembentukan sebuah Negara islam dengan al-quran dan sunnah sebagai undang-undang dasarnya, mulai mendominasikan perbendaharaan dakwah.

Baca juga: