Janji Perdana Menteri Koiso

Janji Perdana Menteri Koiso

Janji Perdana Menteri Koiso

Pada awal perang Dunia II Jepang selalu mendapat kemenangan melawan Sekutu, tetapi pada tahun 1942 Jepang mulai mendapatkan kekealahan dari Sekutu. Jepang yang semula berjaya menguasai Asia Selatan dan asia Tenggara mulai terdesak oleh pasukan Sekutu.

Tahun 1944, Kekalahan Jepang di Asia Pasifik tinggal menunggu waktu. Pada situasi demikian, perlawanan rakyat di daerah jajahan semakin menyala. Keadaan tersebut diperburuk oleh turunyya moril prajurit , krisis ekonomi dan politik di dalam negeri Jepang sendiri.

Tanggal 17 Juli 1944 , Jendral Hideki Tojo meletakkan jabatan sebagai perdana menteri. Ia digantikan oleh Jenderal Kunaiki Koiso. Koiso mempunyai tugas berat memulihkan kewibawaan Jepang dimata bangsa-bangsa Asia. Untuk menarik hati bangsa indonesia, maka pada tanggal 7 September 1944 dalam sidang parlemen jepang, perdana menteri kuniaki koiso mengumumkan bahwa daerah hindia timur (indonesia) diperkenankan merdeka “kelak dikemudian hari”.

Sejak diikrarkan janji kemerdekaan, di kantor-kantor boleh dikibarkan sang Merah Putih yang berdampingan dengan Bendera Jepang (Hinomaru) dan diperkenakan menggunakan bahasa Indonesia di kantor, sekolah dan media masa.

2.2.        Pembentukkan BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

Setelah Jepang memberikan janji kemerdekaan dikemudian hari kepada bangsa indonesia, para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia segera menuntut janji tersebut untuk diwujudkan. Akibat desakan para pemimpin pergerakan kemerdekaan indonesia dan kedudukan jepang yang semakin terdesak, maka Letnan Jenderal Kumakici Harada (pimpinan tentara Jepang di Jawa) pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan indonesia (Dokuritsu Junbi Cosakai), Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk sebagai ketua BPUPKI dengan anggota sebanyak 64 orang.

sumber
https://rekadayatm.co.id/2020/06/16/seva-mobil-bekas/