Jatuhnya Thalaq Dalam Waktu Haid atau Dalam Waktu Suci Yang Telah Disentuhnya

 

Jatuhnya Thalaq Dalam Waktu Haid atau Dalam Waktu Suci Yang Telah Disentuhnya

Satu golongan ulama berpendapat bahwa thalaq dalam waktu haidl atau dalam waktu suci yang telah disentuhnya itu tidak jatuh. Di antara yang berpendapat demikian ialah Al Baaqir dan As Shaadiq dari Imam Syiah, Ibnu Aliyyah dari Ulama Mu’tazilah. Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu ‘I-Qayyim dari Ulama Hanabilah menyenangi pendapat itu dan membelanya.

Dalil Kitab

Ulama Jumhur berdalil dengan kitab, sunnah dan logika, adapun dalil dari kitab ialah:

1. Firman Allah Q.S. Al Baqarah: 229, yang artinya:
“Thalaq adalah dua kali, kemudian adakala menahan dengan cara yang baik, atau melepaskannya dengan cara yang baik pula”.
2. Firman Allah Q.S. Al Baqarah: 230, yang artinya:
“Maka jika ia telah menceraikannya, maka tidak halal lagi baginya sesudah itu, sehingga ia kawin dengan suami lain”
3. Firman Allah Q.S. Al Baqarah: 228, yang artinya:
“Wanita-wanita yang diceraikan, menanti diri mereka tiga kali suci”.

Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut datang secara muthlaq tanpa diqaidkan dengan sesuatu waktu tanpa ditentukan mengenai suatu macam wanita yang diceraikan. Oleh karena itu maka ayat-ayat tersebut menunjukkan jatuhnya thalaq yang dilakukan dalam semua wktu dan kondisi bagaimanapun juga. Juga tidak terdapat nash yang mengkaitkan kemuthlakan ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu wajiblah kita berpendapat jatuhnya thalaq dalam waktu haidl ataupun dalam waktu suci.

Hadits mengenai talaq

Adapun dalil dari sunnah ialah hadist-hadist yang datang mengenai kisah ‘Abdullah Ibnu Umar dengan berbagai lafal yang menunjukkan jatuhnya thalaq itu:

1. Sabda Nabi dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Jama’ah, yang artinya:
“Perintahkan dia untuk rujuk”.

Nabi memerintahkan Ibnu Umar untuk rujuk. Adanya rujuk tentulah sesuadah jatuhnya thalaq.
2. Hadist menurut riwayat Bukhari-Muslim, yang artinya:
“Abdullah telah mentalaq istrinya satu kali thalaq, maka istrinya beristishab dengan thalaqnya”.
Tetapi thalaq itu hanyalah untuk menghilangkan Ishmah dan menggugurkan hak, maka tentulah tidak terikat dengan sesuatu waktu tertentu, sedang larangan thalaq dalam waktu haidl bukan karena tidak ada sababiyah, melainkan karena ada sebab lain di luar hakikatnya dan di luar sababiyahnya, yaitu karena memberi melarat kepada isteri dengan sebab iddahnya menjadi lama. Mereka yang berpendapat tidak jatuhnya thalaq dalam masa yang telah disebutkan, juga berdalil dengan kitab, sunnatullah dan logika.

Adapun dalil dari kitab ialah Firman Allah SWT, yang artinya:

“Maka thalaqlah mereka untuk ‘iddah mereka”.
Mereka mengatakan bahwa asal mengenai thalaq adalah dilarang. Dan karena kebutuhan, ayat tersebut telah menunjukkan bolehnya thalaq pada waktu tertentu, yaitu pada waktu mengahadapi iddah. Maka pensyariatannya hanyalah terbatas menurut apa yang tersebut dalam nash itu, dan selain dari keadaan yang tersebut dalam nash itu tetaplah menurut asalnya tidak boleh.
Hadist yang dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Nassaiy: bahwa Ibnu Umar ditanyai bagaimana pendapatnya mengenai seorang laki-laki yang menceraikan isterinya dalam keadaan haidl. Beliau menjawab “ pada masa Rasullah, Ibnu Umar telah menceraikan isterinya dalam keadaan haidl, maka Umar menanyakan hal itu kepada Rasullah SAW, ia berkata: Abdullah sudah menceraikan istrinya dalam keadaan haidl. Berkata Abdullah: Beliau mengembalikannya kepada saya. Dan ia tidak memandangnya sesuatu”.

Dan hadist ini jelas tentang mengabaikan thalaq dan tidak jatuhnya thalaq ini.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Talaq menurut para ulama

Para ulama mengatakan: Tidak ada berlawanan antara Firman Allah Fa thalliquuhuna li’iddatihinna dengan ayat-ayat yang muthlaq, sehinnga perlu dipertanggungkan yang muthlaq kepada yang muqaiyyad. Karena ayat muqayyad itu diturunkan untuk menyatakan waktu thalaq yang tidak mendatangkan kemelaratan kepada isteri, sedang ayat-ayat lain diturunkan untuk menyatakan hukum-hukum sebagai akibat dari terjadinya thalaq. Sedang thalaq itu kadang-kadang terjadi tidak pada waktu yang iddahnya pendek, dan dalam ayat itu tidak ada yang menunjukkan tidak jatuhnya thalaq itu. Dan thalaq semacam itu dilarang, karena sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan hak-hak syariat, itu tidak mencegah jatuhnya dan sahnya thalaq. Dan tidak dilarang kecuali karena memang jatuh dan ada akibatnya. Kalau memang tidak jatuh, tentulah tidak ada kemelaratannya yang menimpa isteri, dan ia hanya menjadi ucapan yang sia-sia saja. Adapun tidak mencakup nash-nash ibadat dan muamalat kepada yang fasid, karena yang fasid itu ada kecederaan yang kembali kepada bukan zat, maka kami tidak dapat menerima bahwa nash itu tidak mencakupnya, dan oleh karena itu terdapat dalam ibadat dan dalam muamalat, yang fasid, yang sah dan yang makruh. Dan ini juga merupakan tanda bahwa larangan itu tidak berlawanan dengan disyariatkannya secara ithlaq.

Kemudian setelah membandingkan dalil-dalil kedua pihak dan sesudah meneliti perdebatan kefua golongan maka dapat disimpulkan bahwa yang paling dekat dengan nash dan qias adalah pendapat dari para madzhab jumhur ulama.