Khauf

Khauf

Khauf

Khauf
Khauf

Khauf adalah suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya. Menurut Al-Ghazali, Khauf adalah rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak disenangi di masa mendatang.[49] Jadi, khauf itu merupakan keadaan hati yang merasa takut kepada Allah yang diakibatkan telah menyaksikan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah SWT.
Rasa takut dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Rasa takut yang dibarengi dengan keimanan. Ini adalah rasa takutnya orang-orang yang mulia.
b. Rasa takut karena terputus hubungan dengan Allah, ini adalah rasa takutnya orang-orang kelas menengah.
c. Rasa takutnya orang-orang awam, dimana mereka ada yang takut murka dan siksa Allah.
5. Raja’
Raja’ adalah berharap atau perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan atau disenangi, sebagaiman Al-Ghazali mendefinisikannya dengan suatu keadaan dimana hati merasa nyaman karena menanti sesuatu yang dicintai atau di dambakan. Sikap ini mendorong seseorang untuk berbuat ketaatan dan mencegah kemungkaran.
Ketahuilah, bahwa perbuatan berdasarkan raja’ (harapan) lebih tinggi kedudukannya daripada perbuatan berdasarkan khauf (takut). Karena hamba-hamba yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang dicintainya, sedangkan kecintaan timbul karena adanya suatu raja’.[50]
Sebagaiman firman Allah dalam Al-Qur’an QS. Al-kahfi 110

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا.

Raja’ dibagi menjadi tiga tingkatan:
a. Berharap kepada Allah, yaitu seorang hamba yang sanggup mengaktualisasikan harapannya kepada Allah secara hakiki. Maka ia tidak berharap apapun kecuali hanya Allah SWT.
b. Berharap keluasan rahmat Allah.
c. Berharap pahala Allah, adapun berharap keluasan rahmat dan pahala Allah ini merupakan tingkatan seorang hamba (murid) yang berkeinginan merambah jalan Allah.[51]
6. Syauq
Ibnu Khafif berkata, Syauq adalah ketergantungan hati terhadap Allah karena sangat merindukan pertemuan dengan Nya. Karena itu, ia mengatakan bahwa kondisi Syauq adalah pendalaman kondisi Mahabbah, yang disebut محبّة اللقاء بالقرب.[52] Sebagian kaum sufi mengatakan bahwa Syauq adalah api Allah yang dinyalakan dalam hati para walinya, sehingga membakar pikiran, keinginan, bisikan-bisikan jiwa dan kebutuhan yang ada dalam hati mereka.
Orang-orang yang rindu kepada Allah dibedakan menjadi tiga kondisi, yaitu:
a. Mereka yang merindukan pahala, kemuliaan, keutamaan dan ridha yang telah di janjikan Allah.
b. Mereka yang hanya merindukan kekasihnya semata. Sebab cintanya sangat membara dan jenuh untuk tetap tinggal di dunia, maka ia sangat rindu untuk bertemu dengan Nya.
c. Mereka yang rindu untuk menyaksikan kedekatan dengan Allah.[53]
7. Uns (Suka Cita)
Uns (suka cita) dalam pandangan sufi merupakan sifat selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Dalam keadaan seperti ini, seorang sufi merasakan tidak ada yang dirasa, tidak ada yang diingat, tidak ada yang diharap kecuali Allah. Segenap jiwa terpusat bulat kepada-Nya, sehingga ia seakan-akan tidak menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang kesadaran terhadap alam sekitarnya. Situasi kejiwaan seperti itulah yang disebut dengan al-Uns. [54]
Syekh Abu Nashr as-Sarraj ra. berkata: Makna uns (suka cita) dengan Allah SWT. adalah ketergantungan diri kepada-Nya, menaruh kepercayaan kepada-Nya dan meminta bantuan kepada-Nya. Sementara tidak ada ungkapan lain yang lebih tepat dari ungkapan di atas.
Uns (bersuka cita) dengan Allah bagi seorang hamba adalah tingkatan paripurna kesuciannya dan kejernihan dzikirnya, sehingga ia merasa cemas dan gelisah dengan segala sesuatu yang melupakannya untuk mengingat Allah. Maka pada saat itulah ia sangat bersuka cita dengan Allah SWT.
Orang-orang yang merasakan uns (suka cita) dengan Allah dibedakan menjadi tiga kondisi:
a. mereka yang merasakan suka cita dengan berdzikir (mengingat) Allah dan merasa gelisah di saat lalai. Merasa senang disaat berbuat ketaatan dan gelisah di saat berbuat dosa.
b. Seorang hamba yang merasa senang dengan Allah dan gelisah terhadap bisikan-bisikan hati, pikiran, dan segala sesuatu selain Allah yang akan menghalangi dan melupakannya untuk bermesra dengan-Nya.
c. tidak lagi melihat suka citanya karena adanya wibawa, kedekatan, kemuliaan, dan mengagungkan disertai dengan suka cita[55]
8. Thuma’ninah (Ketenangan)
Thuma’ninah dalam arti bahasa adalah rasa tenang. Sedangkan menurut Syekh Ahmad al-Kamasykhonawi adalah ketenangan jiwa/hati yang dikuatkan oleh rasa aman yang muncul dari keyakinan yang mendekati kenyataan yang disertai rasa tenang bersama dengan Allah yang terus menerus.[56]
Ketenangan jiwa/hati ini dapat terpelihara apabila hati selalu ingat kepada Allah terus menerus. Karena orang yang selalu ingat kepada Allah terus menerus akan selalu disertai Allah. Dan barangsiapyang ingat kepada Allah, maka Allah akan selalu ingat kepadanya. Sebagaimana firman Allah: QS ar ra’du 28

الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ. اَلاَ بِذَكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ القُلُوْبُ.
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Dan dalam hadits qudsi:

“Aku bersama hambaku selama ia mengingat ku dan kedua bibirnya bergerak gerak menyebut Aku”
Sementara itu, thuma’ninah (ketenangan) dibedakan menjadi tiga macam:
a. Ketenangan bagi kaum awam. Sebab di saat mereka berdzikir kepada Allah, mereka merasa tenang dengan berdzikir kepada-Nya. Maka bagian yang mereka dapatkan dari dzikir tersebut adalah dikabulkannya doa-doa mereka dengan diperluas rezekinya dan dihindarkan dari bencana.
b. Ketenangan bagi orang-orang khusus, karena mereka rela dan senang atas keputusan (takdir)-Nya, sabar atas cobaan-Nya, ikhlas, taqwa, tenang, dan merasa mantap dengan firman Allah:
اِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هًمْ مُحْسْنُوْنَ.
“Sesungguhnya Allah bersama oang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. an-Nahl:128).
c. Golongan yang paling khusus. Mereka tahu bahwa rahasia-rahasia hati mereka tidak sanggup merasa tentram kepada-Nya dan tidak bisa tenang kepada-Nya, karena keagungan dan kewibawaan Nya.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/