Menristek dorong potensi sisa garam untuk baterai mobil listrik

Menristek dorong potensi sisa garam untuk baterai mobil listrik

Menristek dorong potensi sisa garam untuk baterai mobil listrik

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro mendorong penelitian dan pengembangan kandungan natrium pada sisa garam konsumsi yang berpotensi untuk pengganti litium yang dapat dimanfaatkan pada pengembangan baterai kendaraan listrik, termasuk mobil dan motor.

“Kalau kita ingin mengembangkan mobil listrik, itu ‘kan berarti butuh baterai,

baterainya saat ini dari litium. Ternyata ada sumber litium di luar nikel, tepatnya sisa dari garam, garam yang tidak dipakai konsumsi, itu natrium bisa diolah,” kata Bambang dalam bincang-bincang tentang Arah Kebijakan Riset dan Inovasi dengan Memanfaatkan Pendanaan Mitigasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Pangudi Luhur Alumni Club di SMA Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, Rabu malam.

Saat ini, baterai litium sedang dikembangkan di Indonesia karena Indonesia

memiliki sumber litium yang berasal dari nikel. Pabrik baterai litium sedang dibangun di Morowali, Sulawesi Tengah. Baterai menjadi komponen penting bagi kendaraan listrik karena menyumbang 25—40 persen dari biaya total kendaraan listrik.

Baca juga: Menristek: PLTN tetap disiapkan untuk antisipasi kebutuhan listrik

Saat ini, kata dia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sedang meneliti

dan mengembangkan potensi natrium untuk pengganti litium sehingga mampu memproduksi baterai karena kandungan natrium jaug lebih banyak daripada litium di muka bumi ini.

“ITS pun harus memastikan ini, sekarang mungkin baru prototipe, ini harus dikembangkan menjadi produksi yang sudah masuk keekonomiannya,” ujarnya.

 

sumber :

https://pengajar.co.id/seva-mobil-bekas/