PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN

PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN

PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR

PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN
PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN

Persiapan Induk

Setelah diketahui jumlah induk yang direncanaan untuk disuntik maka 2 (dua) hari sebelum induk diseleksi induk dipuasakan terlebih dahulu. Jika I induk tidak di puasakan dan dipaksakan diseleksi maka akan dapat menyebabkan induk luka dan stress, yang akhirnya akan menyebabkan gagalnya ovulasi telur.

Persiapan Alat dan Bahan

Langkah awal yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan adalah persiapan. Langkah-langkah dalam persiapan meliputi perencanaan, pengecekan kondisi peralatan pemberokan atau inkubasi induk, pendataan, pengecekan terhadap kesiapan dan kelayakan kondisi peralatan dan bahan yang akan digunakan.

Seleksi Induk

Pada umumnya, induk ikan betina yang telah matang gonad memiliki ciri-ciri yang mudah dibedakan dengan induk jantan atau induk betina yang belum dewasa. Postur tubuh induk betina cenderung melebar dan pendek, perut) lembek, halus dan membesar kearah anus. Urogenital membengkak dan membuka serta benvarna merah tua. Sedangkan postur tubuh induk jantan plastic lebih langsing dan panjang, apabila bagian perut dekat lubang kelamin diurut akan mengeluarkan cairan putih kental (cairan sperma).

Penyuntikan Hormon

jenis ikan hias air tawar terindah di aquarium – Hormon yang digunakan adalah ovaprim, standar dosis ovaprim yang diberikan untuk induk betina adalah 0,5 ml/kg sedangkan untuk induk jantan adalah 0,2 kg (bila diperlukan). Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali pada bagian intramuscular di punggung atas kanan/kiri sudut penyuntikan 45o, dengan interval waktu penyuntikan pertama dan kedua sekitar 6-12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan sisanya 2/3 bagian lagi diberikan pada penyuntikan ‘kedua.

proses striping sampai memasukan telur kedalam corong penetasan harus dengan cepat dan lembut. Oleh karena itu persiapan peralatan harus dilakukan dengan teliti sebelum kegiatan pembenihan dimulai.

Setelah 6 (enam) jam setelah penyuntikan kedua di¬lakukan pengecekan terhadap induk betina dilakukan pengecekan terhadap induk betina apakah sudah ovulasi atau belum, langkah pertama yang dilakukan adalah pembiusan terhadap induk. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalarn proses pengecekan dan mengurangi tingkat stress pada ikan. Pembiusan dilakukan dengan menggunakan benzocaine dengan dosis 100 ppm.

Setelah induk terbius langkah selanjutnya adalah pengecekan ovulasi, ovulasi dilakukan dengan cara meng¬urut perut induk ikan dari arah perut ke lubang genital, langkah ini dilakukan dengan hati-hati, waktu striping yang tepat adalah pada saat telur keluar ketika dilakukan pemijatan yang lembut pada bagian perut dan jangan me¬lakukan pijatan yang keras atau dipaksakan.

Inseminasi Buatan

Pembuahan buatan dilakukan dengan cara men¬campur telur dan sperma dengan larutan sodium 0,9 % dan diaduk secara perlahan menggunakan bulu ayam. Tujuan pencampuran larutan sodium ini adalah untuk mengencerkan sperma agar sperma dan telur dapat ter¬campur secara lebih merata.

Setelah diaduk secara merata dan telur terbungkus oleh sperma, langkah selanjutnya adalah pencampuran larutan  tanah merah yang berguna untuk menghilangkan daya rekat telur kemudian diaduk sempurna hingga telur tidak menempel satu sama lain. Untuk menghilangkan larutan tanah merah pada telur dilakukan beberapa kali pembilasan menggunakan air bersih hingga telur bersih sempurna. Telur yang telah bersih kemudian siap untuk dimasukan dalam corong penetasan.

Telur yang telah netes pada media akuarium, fiber ataupun bak haruslah di sipon atau dibersihkan dari kotoran yang berasal dari cangkang telur atau telur yang busuk dan tidak menetas. Ada hal yang hams diperhatikan yaitu ketika telur sudah menetas kita pun harus segera menyiapkan pakan, dimana pakan yang biasa diberikan adalah Artemia.

Larva dipelihara ania- 15 hari, hingga larva ikan akan mencapai ukuran 3/4 inchi. Larva ikan diberikan pakan naupli artemia dari umur 30 jam hingga 7 hari. Adapun f pada hari ke 8 hingga ke 15 larva diberi pakan cacing sutera. Suhu optimal untuk pemeliharaan larva ikan patin adalah antara 29-30oC.

Selama pemeliharaan larva dilakukan penyiponan sisa pakan dan faeces secara rutin, penambahan dan per¬gantian air dapat dilakukan setelah 4 hari pemeliharaan dan dilakukan secara rutin minimal setiap 2 hari sekali atau sesuai dengan kebutuhan.

Larva akan berangsur-angsur berubah menjadi benih pada umur sekitar 15 hari dan pada umur tersebut benih kemudian dipanen dan didederkan pada wadah yang lebih besar agar pertumbuhan benih lebih optimal. W—a-ha a perid—de eran’d’apit ierupa barsemen ataupun bak fiber hingga benih berukuran 2-3 inchi, seluruh kegiatan pemeliharaan larva hingga benih harus dicatat dan ter¬dokumentasi dengan baik, hal ini untuk menghitung biaya produksi yang dikeluarkan untuk memproduksi benih patin. Selain itu bertujuan untuk memudahkan dalam evaluasi apabila terjadi kendala dan masalah dalam proses pemeliharaan benih.