Pengertian Khiyar Ru’yah, Syarat & Ta’yin

Pengertian Khiyar Ru’yah, Syarat & Ta’yin

Khiyar Ru’yah

yaitu khiyar bagi pembeli untuk menyatakan berlaku atau batal jual beli yang dilakuakan terhadap suatu objek yang belum ia lihat ketika akad berlangsung. Jumhur ulama fiqh yag terdiri dari ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, dan Zahiriyah menyatakan bahwa khiyar ru’yah disyariatkan dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah saw:
“Siapa yang membeli sesuatu yang belum ia lihat maka ia berhak khiyar apabila telah melihat barang itu”. (HR. Dar al-Quthni dari Abu Hurairah).

Akad seperti ini, menurut mereka, boleh terjadi disebabkan objek yang akan dibeli itu tidak ada di tempat berlangsungnyya akad, atau karena sulit dilihat seperti ikan kaleng (sardencis).

Khiyar ru’yah, menurut mereka, mulai berlaku sejak pembeli melihat barang yang akan ia dibeli. Aka tetapi, ulama Syafi’iyah, dalam pendapat baru (al-mazhab al-jadid), mengatakan bahwa jual beli barang yang gaib tidak sah, baik barang itu disebutkan sifatnya waktu akad maupun tidak. Oleh sebab itu, menurut mereka, khiyar ru’yah tidak berlaku, karena akad itu mengandung unsur penipuan yang boleh membawa kepada perselisihan, dan hadits Rasulullah saw mengatakan yang artinya: “Rasulullah saw jual beli yang mengandung penipuan”. (HR. Jama’ah ahli hadits, kecuali Bukhari).

Khiyar syarat

yaitu khiyar yang dijadikan syarat oleh keduanya (penjual dan pembelinya), atau salah seorang dari keduanya sewaktu terjadi akad untuk meneruskan atau membatalkan akadnya itu, agar dipertimbangkan setelah sekian hari. Lama syarat yang diminta paling lama tiga hari. Contoh khiyar syarat, seseorang berkata: saya jual mobil ini dengan harga seratus juta rupiah (Rp. 100.000.000,-) dengan syarat boleh memilih selama tiga hari.
Dalam kaitan ini Rasulullah saw. bersabda: ”kamu boleh khiyar (memilih) pada setiap benda yang telah dibeli selama tiga hari tiga malam”. (HR.Baihaqi).

Hadits dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda:
“setiap dua orang yang melakukan jual beli, belum sah dinyatakan jual beli itu sebelum mereka berpisah, kecuali jual beli khiyar”. Artinya, jual beli dapat dilangsungkan dan dinyatakan sah bila mereka berdua telah berpisah, kecuali bila disyaratkan oleh salah satu kedua belah pihak, atau kedua-duanya adanya syarat dalam masa tertentu.

Dalam hadits lai, Rasulullah saw bersabda:
“Jika dua orang melakukan jual beli maka keduanya boleh melakukan khiyar sebelum mereka berpisah dan sebelumnya mereka bersama-sama. Atau salah seorang mereka khiyar maka mereka melakukan jual beli dengan cara itu. Dengan demikian, jual beli menjadi wajib”. (HR. Tiga ahli hadits).

Jika masa waktu yang ditentukan telah berakhir dan akad tidak difasakhkan, maka jual beli wajib dilangsungkan. Khiyar batal dengan ucapan dan tindakan si pembeli terhadap barang yang ia beli, dengan jalan mewakafkan, menhibahkan, atau membayar harganya, karena yang demikian itu menunjukkan kerelaannya.

Khiyar ta’yin

yaitu hak pilih bagi pembeli dalam menentukan barang yang berbedakualitasdan jual beli.
Contoh: pembelian keramik: ada yang berkualitas super (KW1) dan sedang (KW2). Akan tetapi, pembeli tidak mengetahui secara pasti mana keramik yang super dan berkualitas sedang. Untuk melakukan pilihan itu ia memerlukan pakar keramik dan arsitek. Khiyar sepertii ini, menurut ulama Hanafiyah yaitu boleh, dengan alasan bahwa produk sejenis yang berbedakualitas sangat banyak, yang kualitas itu tidak tidak diketahui dengan pasti oleh si pembeli, sehingga ia memerlukan bantuan seorang pakar. Agar pembeli tidak tertipu dan agar produk yang dicari sesuai dengan keperluan, maka khiyar ta’yin dibolehkan.
Akan tetapi, jumhur ulama fqh tidak menerima keabsahan khiyar ta’yin yang dikemukakan ulama Hanafiyah ini. Alasan mereka, dalam akad jual beli ada ketentuan bahwa barang yang diperdagangkan (al-sil’ah) harus jelas, baik kualitasnya, maupun kuantitasnya.

Dalam permasalahan khiyar ta’yin, mennurut mereka, kelihatan bahwa identitas barang yang akan dibeli belum jelas. Oleh karena itu, ia termasuk kedalam jual beli al-ma’dum (tidak jelas identitasnya) yang dilarang syara’.
Ulama Hanafiyah yang membolehkan khiyar ta’yin megemukakan tiga syarat unttuk sahnya khiyar ini, yaitu:
Pilihan dilakukan terhadap barang sejenis yang berbeda kualitas dan sifatnya.
Barang itu berbeda sifat dan nilainya. Tenggang waktu untuk khiyar ta’yin itu harus ditentukan, yaiyu menurut Imam Abu Hanifah tidak boleh dari tiga hari.

Khiyar ta’yin, menurut ulama Hanafiyah, hanya berlaku dalam transaksi yang bersifat pemindahan hak milik yang berupa materi dan mengikat kepada kedua belah pihak, seperti jual beli.

Sumber: www.wfdesigngroup.com