Pengertian Manajemen Pendidikan

Pengertian Manajemen Pendidikan

Pengertian Manajemen Pendidikan

Pengertian Manajemen Pendidikan
Pengertian Manajemen Pendidikan

 

Apabila beberapa pengertian manajemen

tersebut dibahas secara lebih lanjut, maka suatu uraian pendapat yang dapat dirujuk untuk lebih menjelaskan pengertian manajemen pendidikan tersebut adalah pendapat yang dikemukakan oleh Sutjipto. dkk (1994) yang menguraikan secara lebih jelas dan lengkap sebagai berikut.

Pertama, manajemen pendidikan

memiliki pengertian sebagai suatu kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan pada dasarnya merentang dari tujuan yang sederhana sampai pada tujuan pendidikan yang kompleks, sesuai dengan lingkup dan tingkat pendidikan. Tujuan pendidikan dalam satu jam pelajaran di kelas satu SMP, misalnya lebih mudah dirumuskan dan dicapai bila dibandingkan dengan tujuan pendidikan luar sekolah maupun untuk pendidikan orang dewasa, atau tujuan pendidikan nasional. Jika tujuan pendidikan tersebut kompleks maka cara mencapai tujuan pendidikan tersebut juga kompleks, dan seringkali tujuan pendidikan tersebut tidak dapat dicapai oleh satu orang pendidik saja, tetapi melalui kerjasama dengan pendidik yang lainnya, dengan segala aspek kerumitannya. Untuk lebih jelasnya memahami pengertian manejemen pendidikan sebagai proses kerja sama dapat dicontohkan dengan contoh yang lainnya seperti misalnya pada tujuan pendidikan tingkat sekolah tidak akan dapat dicapai tanpa adanya proses kerjasama antara semua komponen sekolah mulai dari guru, pegawai, kepala sekolah, komite sekolah pengawas dan lain sebagainya yang ada kaitnya dengan sekolah.

Kedua, manajemen pendidikan

memiliki pengertian sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses adalah suatu cara yang sistemik dalam mengerjakan sesuatu (Wahjosumidjo. 2008). Jadi seorang manajer dimanapun termasuk kepala sekolah dengan ketangkasan dan keterampilannya yang khusus akan mengusahakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Kegiatan-kegiatan tersebut berupa kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengen-dalikan serta penilaian.
Merencanakan berarti kepala sekolah harus benar-benar memikirkan dan merumuskan dalam suatu program tujuan dan tindakan yang akan dilakukan, mengorga-nisasikan berarti kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumberdaya manusia dan sumber material sekolah, sebab keberhasilan sekolah sangat tergantung pada kecakapan dalam mengatur dan mendayagunakan berbagai sumber dalam mencapai tujuan. Kemudian memimpin berarti kepala sekolah mampu mengarahkan dan mempengaruhi semua sumberdaya manusia untuk melakukan tugas-tugas yang esensial, dan mngendalikan berarti kepala sekolah memperoleh jaminan, bahwa sekolah berjalan mencapai tujuan. Apabila terdapat kesalahan diantara bagian-bagian yang ada di sekolah, kepala sekolah harus memberikan petunjuk dalam meluruskan. Demikian pula akhirnya dalam proses kerjasama pendidikan tersebut harus ada penilaian untuk melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai atau tidak, dan kalau tidak apakah ada hambatan-hambatan. Penilaian dapat berupa penilaian proses kegiatan atau penilaian hasil kegiatan itu.

Ketiga, manajemen pendidikan

diberikan pengertian sebagai sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian tersebut saling berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukkan menjadi keluaran.
Pengertian manjemen pendidikan sebagai sistem tersebut tampaknya agak sulit, tetapi sebenarnya tidak demikian. Ambilah contoh misalnya sekolah dasar. Sekolah dasar merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk memproses anak didik menjadi lulusan. Sebagai suatu sistem sekolah dasar dapat dilihat ada komponen (1) masukkan, yaitu bahan mentah yang berasal dari luar sistem yang akan diolah oleh sistem dalam sistem sekolah. Masukkan tersebut berupa anak didik, (2) proses, yaitu kegiatan sekolah berserta aparatnya untuk mengolah masukkan menjadi keluaran atau lulusan, dan (3) keluaran, yaitu masukan yang telah diolah melalui proses tertentu. Luaran yang dimaksudkan di sini adalah berupa lulusan.
Didalam manajemen modern termasuk didalam manajemen pendidikan tampaknya waktu memiliki peranan penting mengingat waktu akan berjalan terus dan berlalu begitu saja dan tidak dapat diperbarui. Waktu dalam manajemen berarti kesempatan jika tidak dipergunakan dengan baik maka akan kehilangan waktu tersebut, dan kehilangan waktu tersebut menjadi sebab kegagalan manajemen tersebut.
Keempat, manajemen pendidikan dapat diberikan pengertian sebagai pemanfaatan sumberdaya manusia. Sumberdaya yang dimaksudkan tersebut adalah dapat berupa manusia, uang, sarana parasarana dan waktu. Dalam mengunakan sumberdaya tersebut harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Buku paket maupun alat-alat laboratorium sering hanya dipajang, demikian kegiatan pembelajaran tidak digunakan secara efektif. Murid banyak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat seperti mencatat bahan pelajaran yang sudah ada dalam buku, menunggu guru yang sering terlambat ke kelas, dan lain sebagainya.

Kelima, manajemen pendidikan

diberikan pengertian sebagai kepemimpinan. Pengertian manajemen pendidikan sebagai kepemimpinan ini merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan bagaimana dengan kemampuan yang dimiliki administrator pendidikan, pemimpin dapat melaksanakan tut wuri handayani, ing madyo mangun karsa, dan ing ngarsa sung tulado dalam pencapaian tujuan pendidikan. Dengan kata yang lain kepala sekolah dalam menggerakkan bawahan untuk mau bekerja secara lebih giat dengan dapat dan mampu mempengaruhi dan mengawasi, bekerja sama dan memberi contoh. Oleh karena itu maka seorang kepala sekolah tersebut seharusnya sudah tentunya menguasai dan memahami teori dan praktik kepemimpinan, serta mampu dan mau untuk melaksanakan pengetahuan dan kemaunnya tersebut.
Keenam, manajemen pendidikan diberikan pengertian sebagai proses pengambilan keputusan. Setiap saat seoarang kepala sekolah akan dihadapkan pada berbagai macam masalah, dan masalah tersebut segera harus dicarikan pemecahannya. Dalam memecahkan masalah tersebut seorang kepala sekolah akan memerlukan kemampuan dalam mengambil keputusan, yaitu memilih kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan, sebab di dalam mengambil keputusan tersebut akan ada banyak pilihan. Seorang kepala sekolah agar mampu mengambil suatu keputusan yang terbaik untuk semua warga sekolah. Dalam hubungan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan tersebut manajmen pendidikan akan dapat menuntun kepala sekolah untuk mengambil keputusan yang terbaik dari arti akan memiliki resiko paling minimal.
Ketujuh, manajemen pendidikan memiliki pengertian sebagai cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk membuat orang lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Semua kegiatan atau aktivitas dalam pendidikan tidak ada dan dapat dilakukan tanpa dengan adanya komunikasi. Jadi dalam pendidikan akan terjadi komunikasi dan kerja sama untuk dapat saling mengetahui apa yang diinginkan oleh kepala sekolah, oleh guru-guru, pegawai adminstrasi serta anak didik, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan secaranya efektif.
Kedelapan, manajemen pendidikan diberikan pengertian sebagai kegiatan ketatalaksanaan yang intinya adalah kegiatan rutin catat mencatat, mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat menyurat, mempersiapkan laporan dan yang lainnya. Pengertian manajemen pendidikan yang demikian tersebut adalah sangat sempit.