Pengertian Pendekatan Realistik Dalam Pembelajaran Matematika

Kata “realistik” merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Pendekatan ini mengacu pada pendapat Freudenthal  (dalam Gravemeijer, 1994) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan kegiatan manusia. Pendekatan ini kemudian dikenal dengan Realistic Mathematics Education (RME).

Realistic Mathematics Education (RME) atau Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME ini mengacu fakta pendapat freundenthl (Asmin, 2001) yang juga mengatakan bahwa “matematika barus dekat dengan anak dan relevan dengan kebidupan nyata sehari-hari”. Gravemeijer (Suharta, 2004) mengatakan bahwa “matematika sebagai aktivitas manusia harns diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa”. Adapun menurut Slettenhaar (Asmin, 2001) mengatakan bahwa “Realistik yang dimaksud dalam hal ini tidak mengacu pada realitas tetapi fakta sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa”.

Soedjadi (2001: 2) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika realistik pada dasarnya pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa lalu. Lebih lanjut Soedjadi menjelaskan yang dimaksud dengan realitas yaitu hal-hal nyata atau konkrit yang dapat dipahami atau diamati peserta didik lewat membayangkan, sedang yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan ini juga disebut juga kehidupan sehari-hari.

  1. Pendekatan Realistik di antara Pendekatan Lainnya Dalam Pendidikan Matematika

Secara umum terdapat empat pendekatan pembelajaran matematika yang dikenal, Treffers (1991) membaginya dalam mechanistic, strukturalistic, empiristic, dan realistic. Untuk dapat mengetahui posisi dari filsafat realistik, akan diuraikan secara singkat pendekatan menurut filosofi lain di  luar realistik, sebagai berikut:

Menurut filosofi mechanistic bahwa manusia ibarat computer, sehingga dapat di program dengan cara driil untuk mengerjakan hitungan atau algoritma tertentu dan menampilkan aljabar pada level yang paling sederhana atau bahkan mungkin dalam penyelesaian geometri serta berbagai masalah, membedakan dengan mengenali pola-pola dan proses yang berulang-ulang.

Dalam filosofi structuralistic, yang secara historis berakar pada pengajaran geometri tradisional, bahwa matematika dan sistemnya terstruktur secara baik. Manusia dengan kemuliaannya, belajar dengan pandangan dan pengertian dalam berbagai rational, dianggap sanggup menampilkan deduksi-deduksi yang lebih efisien dengan cara menggunakan materi materi sistematik dan terstruktur secara baik. Dalam filosofi ini, yang pada mulanya dijalankan oleh sokrates, para siswa diharapkan patuh untuk mengulang-ulang deduksi pokok. Untuk menguji hasil pengulangan ini, apakah benar-benar menguasai satu kumpulan permasalahan selanjutnya siswa dilatih secara drill.

Selanjutnya, menurut filosofi empiristic bahwa dunia adalah kenyataan. Dalam pandangan ini, kepada siswa disediakan berbagai material yang sesuai dengan dunia kehidupan para siswa. Para siswa memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang berguna, namun sayangnya para siswa tidak dengan sigap mensistemasikan dan merasionalkan pengalaman.

Dalam filosofi realistic, kepada siswa diberikan tugas-tugas yang mendekati kenyataan, yaitu yang dari dalam siswa akan memperluas dunia dari kehidupannya. Kemajuan individu maupun kelompok dalam proses belajar- seberapa jauh dan seberapa cepat akan menentukan spektrum perbedaan dari hasil belajar posisi individu tersebut.

Dalam rangka Realistic Mathematics Education, Freudenthal (1991) menayatakan bahwa “Mathematics is human activity”, karenanya pembelajaran matematika disarankan berangkat dari aktivitas manusia.

baca juga ;