Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Nabi saw adalah teladan yang senantiasa dicontoh para sahabat. Seperti perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw. Menjadi rwferensi kehidupan kehidupan sahabat-sahabat tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau hampir setiap gerak gerik Rasul diketahui dan diriwayatkan oleh sahabat-sahabatnya itu. Dengan demikian bagi mereka Nabi saw adalah sumber ilmu pengetahuan dan patron kehidupan ideal.[1]

Nabi saw adalah guru sunnah terbaik. Dalam priode ini sunnah terbentuk dan diamalkan secara konsisten dan universal. Dengan metode pengajaran yang baik. Dengan metode pengajaran sahabat semakin tertarik untuk terus mengikuti pengajaran Nabi saw.

Pada masa ini Hadits disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan masyarakat luas melalui khutbah, pertemuan antar kelompok, dirumah beliau sendiri, dan bahkan pasar ketika beliau sedang bepergian. Media-media tersebut sangat efektif untuk penyampaian hadits. Perhatian sahabat terhadap hadits ini sangat tinggi untuk diingat dan disampaikan kepada para sahabat lain yang tidak hadir dalam majlis. Demikian juga diantara mereka yang tidak hadir dalam majlis Rasul juga sangat inten untuk mencari Informasi tentang apa yang disampaikan beliau baik secara langsung atau melalui utusan.

Dan dalam menyamppaikan pengajaran Nabi saw memiliki cara-cara mendidik sahabat-sahabatnya ke jalan sunnah, diantaranya adalah:

  1. Husn at-tarbiyah wa ta’lim. Nabi memberikan pengajaran dan pendidikan dengan cara yang baik sehingga sahabat merasa puas dengan keterangan dan perilaku Nabi.
  2. Tathbiq al-amali. Memberikan kesempatan melakukan praktek langsung terhadap apa yang disampaikan.
  3. Mura’ah al-mustawayat al-mukhtalifah. Rasul mempertimbangkan kondisi objektif, sikologi, dan kecerdasan orang yang bertanya kepadanya.
  4. Tabarruj. Nabi memberikan pengajaran secara bertahab sebagaimana Al-Qur’an diturunkan dengan metode yang sama.
  5. Tanwi’wa taghyir.cara belajar memilih dan membagikan masalah yang diajarkan agar sahabat mudah memahami dan tidak merasa jenuh.[2]

Diantara mereka ada yang bergantian hadir di majlis beliau seperti yang dilakukan oleh Umar. Sahabat Umar RA berkata: “Aku bersama tetanggaku sahabat Anshar Bani Umayyah bin Zaid. Dia diantar oleh tokoh Madinah bergantian hadir di majlis Rasulullah SAW sehari dia hadir dan hari yang lain aku yang hadir. Jika aku yang hadir aku sampaikan kepadanya berita tentang wahyu dan yang lain kepadanya, demikian juga jika ia yang hadir.

sumber :