Profil Singkat KH. Abdurrahman Wahid

Profil Singkat KH. Abdurrahman Wahid

Profil Singkat KH. Abdurrahman Wahid

Profil Singkat KH. Abdurrahman Wahid
Profil Singkat KH. Abdurrahman Wahid

Di waktu muda, Gus Dur sering dikirim oleh ayah handanya ke tempat Williem Iskandar Bueller, Orang Jerman yang tinggal di jakarta yang telah memeluk agama Islam. Bisanya Gus Dur datang kerumahnya selepas sekolah dan berada di sana sempai sore. Di tempat inilah Gus Dur belajar sastra dan bahasa asing dan mulai menyukai musik klasik, sastra, utamanya karya-karya Beethoven. Sejak pertama mendengarnya lewat gramofon Bueller hatinya langsung terpikat oleh musik itu.

Riwayat Pendidikan Abdurrahman Wahid Pertama kali belajar

Gus Dur belajar mengaji dan membaca al-Qur?an pada sang kakek, K. H. Hasyim Asy?ari. Pada tahun 1944, dalam usia 4 tahun, Gus Dur dibawa kejakarta oleh ayahnya yang mendapat mandat dari KH. Hasyim Asy?ari untuk mewakili beliau sebagai Ketua Jawatan agama dalam pemerintahan pendudukan Jepang.

Meskipun ayahnya seorang mentri dan tokoh terkenal, Gus Dur tidak sekolah di lembaga pendidikan elit yang bisa di masuki oleh anak pejabat di Jakarta, tidak juga bersekolah di sekolah pendidikan agama, Gus Dur bersama ke enam adiknya masuk pada Sekolah Rakyat ( SR) sebuah sekolah bentukan pemerintah hindia belanda untuk anak pribumi atau SDKRIS yang terletak di jalan samratulangi sekarang.

Ketika mereka pindah rumah dari Jl jawa (Jl. Cokroaminoto) ke taman matraman, ia dan adik-adiknya pindah ke sekolah SD Perwari yang tempatnya tidak jauh dari kediaman mereka, Hanya aisyah, anak nomor dua yangtetap melanjudkan di SD KRIS hingga lulus.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di tanah abang. Selanjudnya ia pindah ke Yogyakarta dan tinggal di rumah tokoh muhamadiyah, KH. Junaid, anggota Majlis Tarjih Munhammadiyah.

Selama belajar di SMEP

sambil berada di pesantren krapyak Yogyakarta. Meskipun sekolah ini dikelola gereja katolik dan sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Abdurrahman Wahid bertemu dengan seorang guru bahasa ingris bernama rufi?ah melalui guru ini, Abdurrahman Wahid belajar bahasa asing, dan banyak berkenalan dengan buku- buku karya-karya tokoh besar dalam bahasa ingris, seperti karya Ernest Hemingway, John Stein, Y.Gasset, Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov, Wiill (‘The Story of Civilazation) ia juga aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice Of Amirica dan BBC London.

Pada saat yang sama, anak remaja ini telah mengenal Das Capital, karya Karl Marx, filsafat Plato, Thales, dan Romantisme Revolusioner, karangan lenin Vladimir Ilyeh (1870-1924) tokoh revolu-sioner rusia dan pendiri Uni soviet. Sejauh itu ia selalu menyampaikan laporan hasil bacaannya kepada guru bahasa ingrisnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMEP

Abdurrahman Wahid banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di berbagai pesantren di Jawa yang berada di naungan nahdlotul ulama?. Pada mulanya beliau mondok di tegal rejo magelang (1957-1959). Selama di pesantren ini, Abdurrahman Wahid menunjukkan bakat dan kemampuan dirinya di bidang ilmu ke Islam di bawah asuhan kiai khudari. Karena kesungguhan dan kemampuannya yang luar biasa, Abdurrahman Wahid hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk belajar di pesantren tersebut.

Sedangkan santri lainnya pada umumnya menghabiskan waktunya bertahun. Selain belajar ilmu ke Islaman di pesantren ini, Abdurrahman Wahid banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku karangan serjana barat.

Kemampuan Abdurrahman Wahid membaca buku-buku barat jarang di miliki oleh para santri pada umumnya. Melalui belajar secara otodidak ini yang di mulai sejak usia dini, menyebabkan Abdurrahman Wahid sudah mengenal karya- karya sastra tingkat dunia, pemikiran filsafat karangan tokoh-tokoh terkemuka seperti Karl Marx, lenin, Gramsci, Mao Zedongn, serta karya-karya pemikir Islam yang berhaluan radikal, dan kekiri-kirian seperti Hasan Hanafi.

Baca juga artikel: