Qurbah

Qurbah

Qurbah

Qurbah
Qurbah

Kondisi spiritual qurbah (kedekatan) bagi seorang hamba adalah menyaksikan dengan mata hatinya akan kedekatan Allah swt. Sehingga ia akan melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan ketaatan-ketaatan dan seluruh perhatiannya selalu terpusatkan dihadapan Allah dengan selalu mengingatnya dalam segala kondisinya. Baik secara lahiriyah maupun rahasia hati.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: Al-baqarah 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ.
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Orang-orang yang memilki kondisi spiritual qurbah ini bedakan menjadi tiga kondisi:
Di antara mereka ada yang mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan melakukan berbagi macam kataatan. Sebab meraka tahu, bahwa Allah Maha mengetahui mereka, dekat dengan mereka dan kekuasaan-Nya di atas mereka.
Di antara mereka juga ada orang yang sanggup mengaktualisasikannya secara hakiki. Sebagimana yang diucapkan oleh Amir bin Abdul Qais,” setiap kali saya melihat sesuatu tentu saya melihat Allah lebih dekat dengannya daripada saya sendiri.”
Al-Junaid rahimahullah berkata, “perlu Anda ketahui, bahwa dia dekat dengan hati para hamba-Nya sesuai dengan kadar kedekatan hati para hamba dengan-Nya para hamba dengan-Nya.[45]
3. Mahabbah
Mahabbah berasal dari kata احبّ يحبّ محبّة yang berarti mencintai secara mendalam. Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah.[46]As’ad al-Sahmarani mengatakan bahwa mahabbah yang dimaksud disini adalah keinginan hamba yang sangat memuncak untuk menemui tuhannya, sehingga segala kecintaan terhadap yang lain sama sekali terlupakan. Jadi, mahabbah itu merupakan suatu perasaan cinta yang sangat mendalam bagi seorang hamba, agar bisa bertemu dengan Allah SWT.
Berdasarkan firman Allah dalam QS. Ali Imran 31
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهَ.
Berdasarkan ayat di atas, Sahal al-Tustari menafsirkan kata tersebut dengan mengatakan:
a. Tanda-tanda orang yang mencintai Allah, adalah mencintai Al-Qur’an.
b. Tanda-tanda orang yang mencintai Al-Qur’an, adalah mencintai Rasulullah.
c. Tanda-tanda orang yang mencintai Rasulullah, adalah mencintai Sunnahnya.
d. Tanda-tanda orang yang mencintai Allah, Rasulnya, Sunnah Rasul, pasti ia juga mencintai akhirat.
e. Tanda-tanda orang yang mencintai akhirat, maka mencintai juga dirinya.
f. Tanda-tanda orang yang mencintai dirinya, tidak membenci akhirat.
g. Tanda-tanda orang yang membenci kehidupan dunia, adalah orang yang hanya sekedar mencari kehidupan dunia karena kepentingan untuk menjadi bekal kehidupan akhirat dan menjadi sarana untuk sampai kepada Allah.[47]
Orang-orang yamg mempunyai kondisi spiritual Mahabbah ini dibedakan menjadi tiga tingkatan:
a. Mahabbahnya orang-orang awam, dimana mahabbah ini lahir karena kebaikan dan kasih sayang Allah. Sebagaimana sabda Nabi SAW: 119
جُلِبَتِ الْقُلُوْبُ عَلَى حُبِّ مَنْ اَحْسَنَ اِلَيْهَا وَبُغْضِ مَنْ اَسَاءَ اِلَيْهَا.
Artinya: Hati manusia diciptakan sesuai dengan kodratinya untuk cenderung mencintai kepada orang yang berbuat baik kepadanya, dan membenci kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.
b. Cinta yang muncul karena hati yang selalu melihat pada keagungan dan kebesaran Allah, ilmu dan kekuasaannya, dimana dia maha kaya yang tidak membutuhkan apapun.
c. Cintanya orang-orang yang benar-benar jujur (ash-shiddiqin) dan orang-orang arif (al-‘arifin). Dimana rasa cintanya muncul karena mereka melihat dan mengetahui keqadiman cinta Allah yang tanpa sebab dan alasan apapun.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/goetia-apk/