Sapi Bali

Sapi Bali merupakan salah satu jenis sapi asli Indonesia yang mempunyai

potensi besar untuk dikembangkan. Asal usul Sapi Bali ini adalah banteng (Bos Sondaicus) yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi selama bertahun tahun. Proses domestikasi yang cukup lama diduga sebagai penyebab Sapi Bali lebih kecil dibandingkan dengan banteng. Sapi Bali jantan dan betina dilahirkan dengan warna bulu merah bata dengan garis hitam sepanjang punggung yang disebut garis belut. Setelah dewasa, warna sapi jantan berubah menjadi kehitam-hitaman, sedangkan warna sapi betina relatif tetap. Sapi Bali tidak berpunuk, keempat kaki dan bagian pantatnya berwarna putih (Abidin, 2004).

Penyebaran Sapi Bali meliputi daerah Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan,

dan Lampung. Keaslian sapi domestik ini dipertahankan secara murni di Bali. Di

Sulawesi dan pulau-pulau lain, Sapi Bali banyak disilangkan dengan Sapi Ongole

(Sarwono dan Arianto, 2007). Sapi Bali paling diminati oleh petani kecil di Indonesia karena memiliki beberapa keunggulan. Sapi ini memiliki tingkat kesuburan tinggi, tipe pekerja yang baik, efisien dalam memanfaatkan sumber pakan, persentase karkas tinggi, daging rendah lemak dan daya adaptasi terhadap

lingkungan tinggi (Soeprapto dan Abidin 2006). Sapi Bali memiliki bentuk relatif persegi dan simetris. Bentuk tubuh semakin besar ke arah depan (bentuk corang) menunjukkan kesamaannya dengan banteng liar nenek moyangnya. Warna dasar coklat keemasan kecuali pada sapi jantan yang akan berubah warna menjadi hitam kecoklatan dengan semakin meningkat usia ternak tersebut (Talib, 2002).

2.2. Rumput Gajah

Rumput Gajah merupakan jenis rumput yang sering dibudidayakan sebagai pakan untuk ternak. Berat yang dimiliki oleh rumput gajah lebih rendah daripada rumput raja. Intensitas pemotongan yang umum dilakukan untuk rumput gajah yaitu ruas ketiga dari pangkal batang. Interval pemotongan pada umumnya 40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari sekali pada musim kemarau (Rukmana, 2005).

Pertumbuhan tanaman rumput. Cara pengembangbiakan utama tanaman rumput adalah dengan vegetatif, transisi, dan reproduktif. Fase vegetatif, batang sebagian besar terdiri atas helaian daun. Leher helaian daun tetap terletak di dasar batang, tidak terjadi pemanjangan selubung daun atau perkembangan kulmus, sebagai respon terhadap temperatur dan panjang hari kritis, meristem apikal secara gradual berubah dari tunas vegetatif menjadi tunas bunga. Hal ini disebut induksi pembungaan. Fase perubahan ini disebut dengan fase transisi. Selama fase transisi helaian daun mulai memanjang. Internodus kulmus juga mulai memanjang. Fase reproduktif (pembuangan) dimulai dengan perubahan ujung batang dari kondisi vegetatif ke tunas bunga (Soetrisno et al., 2008).

2.3. Rumput Molato

Rumput ini disebut  rumput “Molato” yang merupakan persilangan antara rumput Brachiaria ruziziensis clone 44-06 dengan Brachiaria brizantha cv. Marandu (Rosseau dkk., 2005).  Total produksi bahan kering hijauan dari 3 kali panen adalah 12,04 t/ha.  Selain itu petani juga suka karena untuk potong-angkut

tidak membuat tangan dan badan gatal-gatal. Hal yang perlu diperhatikan untuk tumbuh dan berkembangnya lebih baik rumput Mulato ini adalah masalah drainase.  Pada lahan yang drainasenya buruk, rumput Mulato tidak dapat tumbuh

dengan baik karena drainase yang buruk mengakibatkan buruknya pula kondisi aerasi tanah. Hal lain adalah pada daerah yang bercurah hujan tinggi sangat dimungkinkan rumput Mulato terserang oleh Rhizoctonia yaitu cendawan yang menyerang akar (Bahar, 2008).

Khusus tentang rumput Brachiaria terdapat beberapa spesies rumput Brachiaria yang memiliki nilai ekonomi yang penting bagi produksi ternak di daerah tropik. Namun demikian semua spesies rumput Brachiaria tersebut memiliki keterbatasan. Contohnya Brachiaria decumbens cv. Basilisk dapat tumbuh baik di musim kemarau tetapi kualitas hijauannya rendah dan menghasilkan benih yang sedikit di banyak areal di Asia Tenggara.  Brachiaria ruziziensis (Ruzi grass) banyak digunakan di Asia Tenggara tetapi kurang beradaptasi pada musim kemarau panjang dan segera mati di daerah-daerah tersebut (Hare dan Horne, 2004).

baca j;uga :