Seni Drama Jadi Media Alternatif Tumbuhkan Karakter Anak

Seni Drama Jadi Media Alternatif Tumbuhkan Karakter Anak

Seni Drama Jadi Media Alternatif Tumbuhkan Karakter Anak

Seni Drama Jadi Media Alternatif Tumbuhkan Karakter Anak
Seni Drama Jadi Media Alternatif Tumbuhkan Karakter Anak

Anak-anak saat ini cenderung berperilaku dewasa, jauh melampaui usianya.

Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti tayangan televisi yang tidak mendidik, atau abainya orang tua saat anak mengakses internet.

Ada media alternatif yang dianggap efektif dalam membangun karakter anak, salah satunya melalui drama. Media Drama, dinilai oleh sejumlah kalangan menjadi salah satu media pembelajaran untuk menumbuhkan karakter baik anak.

“Penyampaian pesan moral dalam drama disampaikan secara halus. Karena anak perlu dicontohkan agar lebih paham,” kata Ketua pementasan Drama Anak bertajuk “Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Anak”. Diadakan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aldhina Ramadhani, Sabtu, (29/6/2019).

Dhina bersama koleganya berharap, anak-anak dapat bertumbuh kembang

sesuai dengan tahap yang sudah ideal. Anak biarkan tumbuh secara alami, terutama bagi anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar.

“Anak-anak, terkhusus usia Sekolah Dasar, harusnya tumbuh dengan alami. Tidak dewasa sebelum waktunya. Agar pula menjadi pribadi yang baik yang dapat membangun bangsa di hari mendatang,” ujarnya.

Gelaran seni bermain peran ini mengusung tema religiusitas, nasionalisme,

gotong royong dan kemandirian yang selayaknya dimiliki anak-anak. Sub-tema tersebut berangkat dari keresahan Dhina dan kawan-kawan. Drama tersebut dimainkan langsung oleh para mahasiswa yang juga disaksikan secara umum.

Misalnya pada lakon Andina yang harus meneguk pil pahit kehidupan setelah ditinggal sang Ayah. Akhirnya sang Ibu menjadi ujung tombak keluarga. Hanya Andina, anak semata wayang yang dimiliki sang Ibu. Alhasil, kepergian Ayah membuatnya berubah seketika.

Tanpa disadari, segala perilaku dan keputusan yang diambil Andina menjadi sebuah harga yang membuat Andina hanya akan menikmati hal yang menanti di depannya. Ia harus menanggung segala kepedihan atas perilaku yang dibuatnya sendiri. Pil itu bernama penyesalan.

 

Baca Juga :