Sumber-sumber Ilmu Kalam

Sumber-sumber Ilmu Kalam

Sumber-sumber Ilmu Kalam
Sumber-sumber Ilmu Kalam

Sumber-sumber ilmu kalam dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dalil naqli (al- Qur’an dan As-sunnah) dan dalil aqli (akal pemikiran manusia).
Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber utama yang menerangkan tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan permasalahan aqidah Islamiyah yang lainnya.
Berikut ini adalah sumber-sumber Ilmu Kalam:

1. Al-Qur’an

Sebagai sumber ilmu kalam, al-qur’an menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantarnya adalah:
a. Q.S Al-Ikhlas :1-4. Ayat ini menunjukkan bahwa allah Maha Esa.
b. Q.S Asy-Syuara : 7. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyerupai apapun di dunia ini. Ia maha mendengar dan maha mengetahui.
c. Q.S Al-Furqan : 59. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang maha penyayang bertahta di atas “Arsy”. Ia pencipta langit, bumi dan semua yang ada di dalamnya.
d. Q.S. Al-Fath : 10.Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai “tangan” atau kekuasaan yang selalu berada di atas tngan atau kekuasaan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah.
e. Q.S. Thaha : 39. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai mata” atau “penglihatan” yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak , termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
Ayat-ayat di atas berkaitan dengan dzatn sifat, asma, perbuatan, tununan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan.

2. Hadist

Masalah-masalah dalam ilmu kalam juga banyak disinggung dalam hadist, diantaranya yaitu hadist yang menjelaskan tentang iman, islam, dan ihsan.
Adapula beberapa hadist yang kemudian dipahami sebagian umat sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam ilmu kalam, diantarnya:
“Hadist yang diriwayatkan Abdullah bin Umar. Ia mengatkan bahwa Rasulullah , “ akan menimpa umatku yang pernah menimpa bani Israil, bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja, :siapa mereka itu wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Rasulullah menjawab “mereka adalah yang mengikuti jejakku dan dan para sahabat-sahabatku”.

3. Pemikiran Manusia

Sebagai salah satu sumber pemikiran ilmu kalam ialah pemikiran manusia yang berasal dari pemikiran umat islam sendiri dan pemikiran yang berasal dari luar umat islam. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir dan menggunakan akalnya. Diantara ayat tesebut ialah
Q.S. At-Thariq ayat 5-7 yang artinya :
“ maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan. Dia diciptakan dari air mani yang memancar. Yang keluar diantara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.”
Oleh karena itu, jika umat islam sanagt termotivasi untuk memaksimalkan penggunaan rasionya, hal itu bukan karena ada pengaruh dari pihak luar saja, melainkan karena ada perintah langsung dari ajaran agama mereka. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan sangat jelas penggunaan rasio dan logika dalam pembahsan ilmu kalam.

Adapun sumber kalam berupa pemikiran dari luar islam, Ahmad Amin menyebutkan setidaknya ada tiga faktor penting.
Pertama, kebanyakan orang-orang yang memeluk islam setelah kemenangannya, pada awalnya mereka memeluk berbagai agama yaitu yahudi, nasrani, brahmana dan sebagainya. Mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam ajaran-ajaran agama ini. Bahkan diantara mereka ada yang benar-benar memahami agama aslinya. Setelah fikiran mereka tenang dan mereka benar-benar teguh memeluk agama islam, mulailah mereka memikirkan ajaran agama mereka yang sebelumnya dan mengangkat persoalan-prsoalannya lalu memberinya corak baju keislaman.
Kedua golongan mu’tazilah yang memusatkan perhatiannya untuk dakwah islam dengan membantah argumentasi-argumentasi orang-orang yang memusuhi islam. Untuk itu, mereka tidak akan bisa menolak lawan-lawannya kecuali setelah mereka mempelajari pendapat-pendapa serta alasan-alasan lawan mereka . Maka terjadilah perdebatan- perdebatan yang rasional antar agama saat itu.
Ketiga, sebagaimana pada faktor ke duadimana para mutakallimin sangat membutuhkan filsafat yunani untuk mengalahkan lawan—lawannya, maka mereka terpaksa mempelajari dan mengambil manfaat dari ilmu logika, terutama dari sisi kketuhanannya.

4. Insting

Secara insting, manusia selalu ingin bertuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan adanya tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama.

Sumber: dutadakwah.org